BIDANKU
Namaku
Yuliyanti, aku salah satu mahasiswa STIKes Budi Luhur Cimahi Prodi
D3 Kebidanan masih tingkat I J. Aku berasal dari Banten
tepatnya Kp. GunungBatu Kec. Cilograng Kab. Lebak, lumayan jauh sih
untuk kuliah di cimahi ini, tapi yaa inilah
pilihan
saya.
Disela waktu liburan natal dan
tahun baru, tepatnya hari jum’at tanggal 26 desember 2014 saya dan teman saya
pergi ke puskesmas terdekat di kecamatan kami. Hari itu kami berniat bertemu
dengan bidan yang ada di puskesmas sekedar untuk mengontrak waktu dan meminta
kesediaan beliau untuk kami wawancarai. Karena waktu sudah siang kami hanya
bertemu dengan petugas piket dan bidan yang kebetulan akan segera pulang, saya
bertanya bidan yang kiranya dapat kami wawancarai pada hari lain. Petugas
puskesmas siang itu menyarankan saya untuk langsung bertanya kepada bidan yang
ada pada hari itu, ketika saya tanya-tanya ternyata bidan itu adalah bidan
Hesti alumni STIKes Budi Luhur juga, tambah semangat lah saya untuk
mewawancarainya. Saya bertanya-tanya dan akhirnya beliau siap untuk saya
wawancarai.
Keesokan harinya, bidan hesti
meminta saya mewawancarainya di puskesmas, karena hari itu hari sabtu beliau
piket siang dan kami sudah sepakat wawancara pada pukul 14.00. Tapi ada kendala
lain, hujanpun turun dan saya sedikit telat, untungnya beliau belum datang hehe
J.
Sebelum saya ceritakan hasil
wawancara saya dengan bidan Hesti, saya tuliskan biografi beliau dulu yaa.
Bidan yang saya wawancarai kali ini bernama Bidan Hesti Pratiwi, lahir di Bandung
24 Februari 1987. Beliau asli orang Banten dan sekarang tinggal di Desa Pasir
Bungur, Lebak-Banten. Beliau sudah menikah dan memiliki 1 orang anak, ternyata
suami beliau juga alumni Stikes Budi Luhur Cimahi loh, namanya Bapak Bagja,
saya kurang hapal hanya sekedar tahu beliau. Bidan hesti tidak memberi tahu
secara mendetail tentang suaminya, dan saya pun tidak bertanya begitu mendetail
takut mengganggu waktu piket beliau hehe. Tapi yang saya tahu suami beliau
adalah seorang dosen STIKes Budi Luhur Prodi S1 Keperawatan. Pendidikan tertinggi
beliau saat ini adalah D3 kebidanan STIKes Budi Luhur Cimahi dan berniat untuk
melanjutkan D4, aamiin. Dulu beliau bersekolah di TK Al-Furqon, SDN Pasir
Bungur 1, SMPN 1 Cisolok, MAN Cianjur ( PACET ) kemudian mengambil D3 kebidanan
di Stikes Budi Luhur Cimahi, beliau alumni pertama D3 kebidanan di STIKes Budi
Luhur.
Setelah lulus kuliah beliau
sempat bekerja di salah satu BPS daerah Bekasi, BPS Pelabuhan Ratu, menjadi
Bidan Desa Cilograng, BidanDesa Pasir Bungur, Bidan Desa Girimukti, Bidan Desa
Pasir Bungur, Bidan Desa Gunung Batu dan saat ini membuka BPM (Bidan Praktek
Mandiri) di Desa Pasir Bungur.
Ia menjadi bidan atas
kemauannya sendiri tanpa ada paksaan dari orangtua seperti kebanyakan bidan lainnya.
Visi nya menjadi bidan karena kemauan yang kuat dan motivasi dari orang-orang
sekitarnya. Banyak hal berkesan yang ia alami ketika menjadi bidan terutama
ketika ia menjadi seorang Bidan di Desa, hal yang paling berkesan menurut
beliau adalah ketika menolong persalinan dan dapat mengatasinya dengan lancar
baik ibu atu bayinya, menjadi sebuah kebangaan bagi beliau. Meskipun banyak
suka dan duka ketika menjadi bidan, tetapi lebih banyak suka dibandingkan
dukanya, jika kita melakukannya sesuai dengan wewenang dan profesi kita.
Sebelum menanyakan perannya,
saya menanyakan tentang dukun beranak (paraji) yang sepertinya menjadi saingan
ketat bidan apalagi di desa hehe. Sebenarnya di kecamatan Cilograng, Kabupaten
Lebak-Banten ada kemitraan dan ada MOU antara Puskesmas khususnya Bidan dengan
paraji dan diberikan pelajaran serta pengertian bahwa persalinan yang baik itu
harus ditangani oleh petugas kesehatan baik bidan ataupun Dokter bila
bermasalah, paraji hanya sebagai pembantu bidan dan keluarga ketika sudah
melahirkan. Tapi, meskipun sudah ada MOU tetap saja di kampung-kampung
terpencil masih ada keluarga yang meminta bantuan paraji untuk menangani
persalinan dan hanya akan menghubungi bidan ketika ada masalah, misalnya
pendarahan dan lain sebagainya, jadi masyarakat desa masih kurang kesadaran
begitupun dengan dukun beranak,hal ini malah dijadikan kesempatan untuk merauk
keuntungan semata.
Dari itu saya jadi mengerti
memang bidan dan paraji itu sangat jauh berbeda terutama dalam pengetahuannya.
Setelah itu saya bertanya tentang peran seorang bidan terutama dalam mengadapi
masyarakat di Desa. “Bu, peran ibu sebagai bidan itu apa sih bu?” tanyaku
kepada bidan Hesti. “perannya neng? Banyak banget tapi yang saya alami selama
ini kebanyakan peran saya untuk masyarakat sebagai pelaksana neng. Meskipun
sebagai pendidik ya pasti, sebagai pengelola dan sebagai penelitipun sudah
pasti. Tapi paling banyak dan paling dominan itu sebagai pelaksana neng hehe”,
ujar Bidan Hesti. “kalo pelaksana itu mungkin kan langsung bantu persalinan ya
bu?”, “bukan cuma bantu persalinan neng, posyandu, KB dan lain sebagainya yang
tujuan utamanya menurunkan AKI dan AKB”, jawab Bidan Hesti dengan santai. Waww
ternyata peran bidan berat banget, harus nyelamatin nyawa ibu dan bayi pada
saat yang bersamaan dengan tangan magic nya J. Saya dan bidan Hesti terus bertanya-tanya mengenai perannya
di masyarakat. Saya sangat bangga karena bidan di Kecamatan Cilograng sampai
saat ini belum pernah ada yang memiliki kasus berat misalnya masalah aborsi,
sangat jauh berbeda dengan bidan-bidan kota yang sering dosen saya ceritakan,
miris bangeet.
Selain tidak adanya kasus
aborsi di daerah kami yang bidan tangani, AKI dan AKB yang tercatat pada tahun
2014 hanya ada 1 orang ibu tepatnya di Desa Cikamunding Kecamatan Cilograng,
tapi ada sekitar 15 bayi yang meninggal yang paraji tangani, diluar
sepengetahuan bidan atau tenaga kesehatan lainnya. Ada banyak cara bidan-bidan
cantik di kecamatan cilograng ini untuk meningkatkan kesehatan reproduksi serta
menurunkan tingkat kehamilan usia dini diantaranya dengan adanya Program
Kesehatan ke sekolah-sekolah di sekitar kecamatan Cilograng diantaranya dengan
penyuluhan, Napsa, PHBS bahkan Dokcil. Semua itu mereka lakukan semata-mata
untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan terutama kesehatan
reproduksi.
Program KB di Desa masih rendah
menurut Bidan Hesti, tapi seiring berjalannya waktu masyarakat sadar akan
kebutuhan hidupnya. “Bu, bagaimana minat masyarakat terhadap KB?” tanyaku,
“masih sangat rendah neng, tapi sekarang lumayan lah makin ningkat meskipun
masih besar peminatnya di Kota” jawab Bidan Hesti. “kalo yang pake KB biasanya
atau kebanyakan pake KB yang mana bu?”, tanyaku sambil sedikit penasaran. “KB
suntik neng, hampir semuanya tapi ada beberapa yang pake pil dan ada juga yang
memakai implan, masih banyak mantri-mantri keliling neng yang menawarkan KB,
padahal mereka bukan perawat atau lulusan sekolah kesehatan lainnya hanya
sekedar tahu saja, makanya yang tercatat di kami baru sedikit”, jawabnya.
Menjadi seorang bidan itu
profesi yang sangat mulia, selain dapat membantu proses persalinan dapat
mengasilkan uang yang lumayan juga hehe. Yang saya tahu sekarang ini, setiap
persalinan bidan dapat dibayar sampai 1 jt, tapi agar saya tidak bertanya-tanya
saya menanyakan juga nih pendapatan bidan, sekalian nanya daripada salah
penafsiran karena ada pepatah “malu bertanya sesat di jalan”. Awalnya saya
malu-malu nanya penghasilan, tapi saya tanya dengan sedikit ragu “ibu maaf,
saya pernah denger juga dari dosen saya bidan itu sekali nolong persalinan bisa
sampe 1 jt bahkan lebih ya bu?”, “kalo dulu itu benar-benar gratis neng ada
JAMPERSAL, kalo sekarang ya, kadang nyampe kadang ada yang ngutang juga sih
neng. Sekarang sudah ada tarifnya, nanti juga tahu neng. Tapi sekarang ada
BPJS, ASKES, JAMSOSTEK juga neng untuk meringankan” jawabnya sambil becanda.
“gratis dong bu kalo pake askes atau bpjs? Hehe”, “engga neng, itu hanya
meringankan sebagian, jadi bidan mah gk enak kalo udah di hutang neng, ibu juga
sampe saat ini masih ada masyarakat yang ngutang ke ibu dari beberapa tahun
lalu, tapi yaudah lah itu bukan rizkinya ibu, hehe”. “Baik banget ya bidan
hesti” pikirku.
Kurang lebih 1 jam berlalu,
kami berbincang-bicang dan suara adzan asharpun berkumandang. Kebetulan
pertanyaan sudah saya tanyakan dan waktu sudah sore saya akhiri wawancara hari
ini dengan memberikan cedera mata murah sekedar pengganti waktunya yang saya
pakai untuk wawancarai.
Jadi, kesimpulan dari wawancara
ini adalah peran fungsi bidan di masyarakat mencakup semua aspek baik sebagai
pendidik, pelaksana, pengelola bahkan sebagai peneliti. Perannya sebagai
pendidik diantaranya dengan memberika penyuluhan atau pelatihan-pelatihan
tentang program kesehatan dan lain sebagainya. Adapun sebagai pelaksana, peran
bidan sangat banyak, contohnya dengan terjun langsung ke masyarakat dan
membantu langsung pasien.
Sebelum mengakhiri Cerita
Pendek ini, Bidan Hesti Pratiwi kasih beberapa kesan dan pesan nih untuk kita
para bidan. Baca ya !!!
Ø
Kesan
Menyelamatkan dua nyawa sekaligus
sebenarnya menjadi beban yang sangat berat, tapi itulah kami seorang bidan dan
itulah pekerjaan kami, tanggung jawab kami dan sumber penghasilan kami J
Ø
Pesan
·
Harus
belajar sungguh-sungguh, trampil, cekatan, karena yang kita hadapi manusia asli
bukan hanya sekedar boneka.
·
Harus
sungguh ketika PKK, Khususnya PKK 3
*waww ada apa ya di PKK 3, jadi penasaraan J
·
Pesan
yang terakhir dari Bidan Hesti sekaligus Alumni STIKes Budi Luhur Cimahi
“lulusan Budi Luhur jangan khawatir gak
dapet kerja, meskipun kampus kita bukan kampus negeri, yakin!”
Ø Dokumentasi dan Bukti

Tidak ada komentar:
Posting Komentar