Minggu, 18 Januari 2015

wawancaraku dengan bidan

BIDANKU
Namaku Yuliyanti, aku salah satu mahasiswa STIKes Budi Luhur Cimahi Prodi D3 Kebidanan masih tingkat I J. Aku berasal dari Banten tepatnya Kp. GunungBatu Kec. Cilograng Kab. Lebak, lumayan jauh sih untuk kuliah di cimahi ini, tapi yaa  inilah pilihan
saya.
Disela waktu liburan natal dan tahun baru, tepatnya hari jum’at tanggal 26 desember 2014 saya dan teman saya pergi ke puskesmas terdekat di kecamatan kami. Hari itu kami berniat bertemu dengan bidan yang ada di puskesmas sekedar untuk mengontrak waktu dan meminta kesediaan beliau untuk kami wawancarai. Karena waktu sudah siang kami hanya bertemu dengan petugas piket dan bidan yang kebetulan akan segera pulang, saya bertanya bidan yang kiranya dapat kami wawancarai pada hari lain. Petugas puskesmas siang itu menyarankan saya untuk langsung bertanya kepada bidan yang ada pada hari itu, ketika saya tanya-tanya ternyata bidan itu adalah bidan Hesti alumni STIKes Budi Luhur juga, tambah semangat lah saya untuk mewawancarainya. Saya bertanya-tanya dan akhirnya beliau siap untuk saya wawancarai.
Keesokan harinya, bidan hesti meminta saya mewawancarainya di puskesmas, karena hari itu hari sabtu beliau piket siang dan kami sudah sepakat wawancara pada pukul 14.00. Tapi ada kendala lain, hujanpun turun dan saya sedikit telat, untungnya beliau belum datang hehe J.
Sebelum saya ceritakan hasil wawancara saya dengan bidan Hesti, saya tuliskan biografi beliau dulu yaa. Bidan yang saya wawancarai kali ini bernama Bidan Hesti Pratiwi, lahir di Bandung 24 Februari 1987. Beliau asli orang Banten dan sekarang tinggal di Desa Pasir Bungur, Lebak-Banten. Beliau sudah menikah dan memiliki 1 orang anak, ternyata suami beliau juga alumni Stikes Budi Luhur Cimahi loh, namanya Bapak Bagja, saya kurang hapal hanya sekedar tahu beliau. Bidan hesti tidak memberi tahu secara mendetail tentang suaminya, dan saya pun tidak bertanya begitu mendetail takut mengganggu waktu piket beliau hehe. Tapi yang saya tahu suami beliau adalah seorang dosen STIKes Budi Luhur Prodi S1 Keperawatan. Pendidikan tertinggi beliau saat ini adalah D3 kebidanan STIKes Budi Luhur Cimahi dan berniat untuk melanjutkan D4, aamiin. Dulu beliau bersekolah di TK Al-Furqon, SDN Pasir Bungur 1, SMPN 1 Cisolok, MAN Cianjur ( PACET ) kemudian mengambil D3 kebidanan di Stikes Budi Luhur Cimahi, beliau alumni pertama D3 kebidanan di STIKes Budi Luhur.
Setelah lulus kuliah beliau sempat bekerja di salah satu BPS daerah Bekasi, BPS Pelabuhan Ratu, menjadi Bidan Desa Cilograng, BidanDesa Pasir Bungur, Bidan Desa Girimukti, Bidan Desa Pasir Bungur, Bidan Desa Gunung Batu dan saat ini membuka BPM (Bidan Praktek Mandiri) di Desa Pasir Bungur.
Ia menjadi bidan atas kemauannya sendiri tanpa ada paksaan dari orangtua seperti kebanyakan bidan lainnya. Visi nya menjadi bidan karena kemauan yang kuat dan motivasi dari orang-orang sekitarnya. Banyak hal berkesan yang ia alami ketika menjadi bidan terutama ketika ia menjadi seorang Bidan di Desa, hal yang paling berkesan menurut beliau adalah ketika menolong persalinan dan dapat mengatasinya dengan lancar baik ibu atu bayinya, menjadi sebuah kebangaan bagi beliau. Meskipun banyak suka dan duka ketika menjadi bidan, tetapi lebih banyak suka dibandingkan dukanya, jika kita melakukannya sesuai dengan wewenang dan profesi kita.
Sebelum menanyakan perannya, saya menanyakan tentang dukun beranak (paraji) yang sepertinya menjadi saingan ketat bidan apalagi di desa hehe. Sebenarnya di kecamatan Cilograng, Kabupaten Lebak-Banten ada kemitraan dan ada MOU antara Puskesmas khususnya Bidan dengan paraji dan diberikan pelajaran serta pengertian bahwa persalinan yang baik itu harus ditangani oleh petugas kesehatan baik bidan ataupun Dokter bila bermasalah, paraji hanya sebagai pembantu bidan dan keluarga ketika sudah melahirkan. Tapi, meskipun sudah ada MOU tetap saja di kampung-kampung terpencil masih ada keluarga yang meminta bantuan paraji untuk menangani persalinan dan hanya akan menghubungi bidan ketika ada masalah, misalnya pendarahan dan lain sebagainya, jadi masyarakat desa masih kurang kesadaran begitupun dengan dukun beranak,hal ini malah dijadikan kesempatan untuk merauk keuntungan semata.
Dari itu saya jadi mengerti memang bidan dan paraji itu sangat jauh berbeda terutama dalam pengetahuannya. Setelah itu saya bertanya tentang peran seorang bidan terutama dalam mengadapi masyarakat di Desa. “Bu, peran ibu sebagai bidan itu apa sih bu?” tanyaku kepada bidan Hesti. “perannya neng? Banyak banget tapi yang saya alami selama ini kebanyakan peran saya untuk masyarakat sebagai pelaksana neng. Meskipun sebagai pendidik ya pasti, sebagai pengelola dan sebagai penelitipun sudah pasti. Tapi paling banyak dan paling dominan itu sebagai pelaksana neng hehe”, ujar Bidan Hesti. “kalo pelaksana itu mungkin kan langsung bantu persalinan ya bu?”, “bukan cuma bantu persalinan neng, posyandu, KB dan lain sebagainya yang tujuan utamanya menurunkan AKI dan AKB”, jawab Bidan Hesti dengan santai. Waww ternyata peran bidan berat banget, harus nyelamatin nyawa ibu dan bayi pada saat yang bersamaan dengan tangan magic nya J. Saya dan bidan Hesti terus bertanya-tanya mengenai perannya di masyarakat. Saya sangat bangga karena bidan di Kecamatan Cilograng sampai saat ini belum pernah ada yang memiliki kasus berat misalnya masalah aborsi, sangat jauh berbeda dengan bidan-bidan kota yang sering dosen saya ceritakan, miris bangeet.
Selain tidak adanya kasus aborsi di daerah kami yang bidan tangani, AKI dan AKB yang tercatat pada tahun 2014 hanya ada 1 orang ibu tepatnya di Desa Cikamunding Kecamatan Cilograng, tapi ada sekitar 15 bayi yang meninggal yang paraji tangani, diluar sepengetahuan bidan atau tenaga kesehatan lainnya. Ada banyak cara bidan-bidan cantik di kecamatan cilograng ini untuk meningkatkan kesehatan reproduksi serta menurunkan tingkat kehamilan usia dini diantaranya dengan adanya Program Kesehatan ke sekolah-sekolah di sekitar kecamatan Cilograng diantaranya dengan penyuluhan, Napsa, PHBS bahkan Dokcil. Semua itu mereka lakukan semata-mata untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan terutama kesehatan reproduksi.
Program KB di Desa masih rendah menurut Bidan Hesti, tapi seiring berjalannya waktu masyarakat sadar akan kebutuhan hidupnya. “Bu, bagaimana minat masyarakat terhadap KB?” tanyaku, “masih sangat rendah neng, tapi sekarang lumayan lah makin ningkat meskipun masih besar peminatnya di Kota” jawab Bidan Hesti. “kalo yang pake KB biasanya atau kebanyakan pake KB yang mana bu?”, tanyaku sambil sedikit penasaran. “KB suntik neng, hampir semuanya tapi ada beberapa yang pake pil dan ada juga yang memakai implan, masih banyak mantri-mantri keliling neng yang menawarkan KB, padahal mereka bukan perawat atau lulusan sekolah kesehatan lainnya hanya sekedar tahu saja, makanya yang tercatat di kami baru sedikit”, jawabnya.
Menjadi seorang bidan itu profesi yang sangat mulia, selain dapat membantu proses persalinan dapat mengasilkan uang yang lumayan juga hehe. Yang saya tahu sekarang ini, setiap persalinan bidan dapat dibayar sampai 1 jt, tapi agar saya tidak bertanya-tanya saya menanyakan juga nih pendapatan bidan, sekalian nanya daripada salah penafsiran karena ada pepatah “malu bertanya sesat di jalan”. Awalnya saya malu-malu nanya penghasilan, tapi saya tanya dengan sedikit ragu “ibu maaf, saya pernah denger juga dari dosen saya bidan itu sekali nolong persalinan bisa sampe 1 jt bahkan lebih ya bu?”, “kalo dulu itu benar-benar gratis neng ada JAMPERSAL, kalo sekarang ya, kadang nyampe kadang ada yang ngutang juga sih neng. Sekarang sudah ada tarifnya, nanti juga tahu neng. Tapi sekarang ada BPJS, ASKES, JAMSOSTEK juga neng untuk meringankan” jawabnya sambil becanda. “gratis dong bu kalo pake askes atau bpjs? Hehe”, “engga neng, itu hanya meringankan sebagian, jadi bidan mah gk enak kalo udah di hutang neng, ibu juga sampe saat ini masih ada masyarakat yang ngutang ke ibu dari beberapa tahun lalu, tapi yaudah lah itu bukan rizkinya ibu, hehe”. “Baik banget ya bidan hesti” pikirku.
Kurang lebih 1 jam berlalu, kami berbincang-bicang dan suara adzan asharpun berkumandang. Kebetulan pertanyaan sudah saya tanyakan dan waktu sudah sore saya akhiri wawancara hari ini dengan memberikan cedera mata murah sekedar pengganti waktunya yang saya pakai untuk wawancarai.
Jadi, kesimpulan dari wawancara ini adalah peran fungsi bidan di masyarakat mencakup semua aspek baik sebagai pendidik, pelaksana, pengelola bahkan sebagai peneliti. Perannya sebagai pendidik diantaranya dengan memberika penyuluhan atau pelatihan-pelatihan tentang program kesehatan dan lain sebagainya. Adapun sebagai pelaksana, peran bidan sangat banyak, contohnya dengan terjun langsung ke masyarakat dan membantu langsung pasien.
Sebelum mengakhiri Cerita Pendek ini, Bidan Hesti Pratiwi kasih beberapa kesan dan pesan nih untuk kita para bidan. Baca ya !!!
Ø  Kesan
Menyelamatkan dua nyawa sekaligus sebenarnya menjadi beban yang sangat berat, tapi itulah kami seorang bidan dan itulah pekerjaan kami, tanggung jawab kami dan sumber penghasilan kami J
Ø  Pesan
·           Harus belajar sungguh-sungguh, trampil, cekatan, karena yang kita hadapi manusia asli bukan hanya sekedar boneka.
·           Harus sungguh ketika PKK, Khususnya PKK 3
*waww ada apa ya di PKK 3, jadi penasaraan J
·           Pesan yang terakhir dari Bidan Hesti sekaligus Alumni STIKes Budi Luhur Cimahi
“lulusan Budi Luhur jangan khawatir gak dapet kerja, meskipun kampus kita bukan kampus negeri, yakin!”

Ø Dokumentasi dan Bukti

IMG00271-20141227-1530a.jpg